jump to navigation

Arti Sebuah Kejujuran 13 October 2012

Posted by belajarmembacakalamullah in Tak Berkategori.
trackback

Al Ilmu

Arti Sebuah Kejujuran
(ditulis oleh:Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husain Al-Atsariyyah)

Dalam kehidupan rumah tangga,
dusta kepada pasangannya
barangkali telah menjadi hal
lumrah. Terlebih bila aroma
perselingkuhan sudah merebak di
antara mereka. Tak pelak, rasa percaya dan cinta pun akan
terurai menjadi kebencian yang
berujung pada kehancuran
rumah tangga. Namun, dalam
keadaan tertentu, dusta
terkadang boleh dilakukan suami/ istri. Kapan? Simak bahasan
berikut.

Dalam menjalani kehidupan ini,
seorang insan yang beriman
kepada Allah dan hari akhir
dituntut untuk melazimi
kejujuran dalam ucapan maupun
perbuatannya. Karena kejujuran merupakan sifat yang terpuji
dalam syariat Allah .

Sementara
dusta, lawan dari jujur,
merupakan sifat yang tercela.
Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang
beriman, bertakwalah kalian
kepada Allah dan jadilah kalian
bersama orang-orang yang
jujur.” (At-Taubah: 119)
Adalah Rasulullah menekankan umatnya untuk berakhlak jujur
melalui sabdanya yang mulia:

“Wajib bagi kalian untuk jujur,
karena kejujuran itu akan
membimbing kepada kebaikan.
Sementara kebaikan itu akan
membimbing ke surga. Terus
menerus seorang hamba itu berlaku jujur dan membiasakan
sifat ini hingga ia tercatat di sisi
Allah sebagai seorang yang
shiddiq (jujur). Hati-hati kalian
dari dusta karena dusta itu akan
membimbing kepada kejahatan. Sementara kejahatan itu akan
membimbing ke neraka. Terus
menerus seorang hamba itu
dusta dan membiasakan sifat ini
hingga ia tercatat di sisi Allah
sebagai seorang pendusta.”1

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
berkata: “Nabi mengabarkan
bahwa kejujuran adalah asas
yang berkonsekuensi kebaikan,
sementara dusta adalah asas
yang berkonsekuensi kejahatan. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang
yang baik itu berada dalam
kenikmatan sedangkan orang-
orang fujjar (jahat) itu berada
dalam neraka jahannam.” (Al-
Infithar: 13-14) (Makarimul Akhlaq, Ibnu Taimiyyah, hal. 126)

Dalam menjalani kehidupan
berumah tangga pun, seorang
insan, dalam posisinya sebagai
suami maupun sebagai istri,
dituntut untuk berpegang dengan sifat jujur dan menjauhi
lawan dari sifat mulia ini. Karena
kejujuran akan mengakibatkan
jalannya rumah tangga menjadi
lebih baik, dan sebaliknya
ketidakjujuran pada akhirnya akan menghancurkan rumah
tangga. Bisa dibayangkan
bagaimana jadinya sebuah rumah
tangga bila sepasang suami istri
tidak jujur kepada pasangan
hidupnya. Si istri meminta izin kepada suaminya untuk
menghadiri majelis taklim,
misalnya. Akan tetapi, hajatnya
keluar rumah tidak sekedar
hadir di majelis taklim
sebagaimana permintaan izinnya kepada suami. Ia malah mampir
ke swalayan, jalan-jalan di mall,
singgah di rumah teman, ngobrol,
dan sebagainya. Sehingga ia yang
semestinya sudah berada kembali
di rumah sebelum dhuhur, tapi karena mampir ke mana-mana,
baru tiba di rumah sore hari. Ia
pun mengarang cerita dusta
agar suaminya tidak
menggerutui keterlambatannya.
Contoh lain misalnya, seorang istri membelanjakan harta
suaminya dengan seenaknya. Dan
ketika ditanyakan oleh suaminya,
ia berdusta menyebutkan
kebutuhan-kebutuhan yang ada.
Dua contoh di atas, jelas tidak pantas dilakukan seorang istri.
Semestinya ia berlaku jujur
kepada suaminya dalam ucapan
maupun perbuatannya.
Sebagaimana nasehat Asy-Syaikh
Shalih Al-Fauzan hafizhahullah kepada para istri:

“Jadilah
engkau seorang yang jujur
kepada suamimu dalam segala
sesuatu, khususnya tentang apa
yang terjadi ketika suami sedang
berada di luar rumah. Jauhilah dusta dan kepalsuan. Karena
dusta itu bila satu kali dapat
tertutupi maka akan terus
dilakukan hingga tersingkap dan
akhirnya menghilangkan
kepercayaan. Dan bila kepercayaan itu telah hilang,
niscaya sebuah rumah tangga
tidak akan menjadi tempat
ketenangan yang
menggembirakan dan tidak pula
menjadi tempat tarbiyah yang baik.” (Daurul Mar`ah fi Tarbiyatil
Usrah, hal. 6)2

Menjaga Mawaddah dan Rahmah
dalam Rumah Tangga

Dalam bergaul dengan istri,
seorang suami semestinya
berlaku lembut, berbicara
dengan ucapan yang baik yang dapat menyenangkan istrinya
dan menenangkan pikirannya.
Perbuatan seperti ini merupakan
salah satu faktor yang
menjadikan cinta istri tetap
bersemi kepada suaminya. Istri pun seharusnya berbuat
demikian, ia berbicara dengan
suaminya dengan ucapan yang
baik yang dapat
menyenangkannya, menenangkan
pikiran dan mengembirakan hatinya. Yang demikian itu pun
merupakan sebab tumbuhnya
cinta suami kepada istrinya.
Keadaan yang penuh
ketenangan, kebahagiaan, cinta
dan kasih sayang dalam sebuah rumah tangga, antara suami
dengan istrinya serta penghuni
rumah lainnya, merupakan hal
yang dikehendaki syariat yang
mulia ini. Karena itulah syariat
menetapkan aturan agar “keindahan” dalam rumah
tangga itu tetap langgeng. Salah
satunya bila pada kondisi
tertentu, seorang suami atau
istri terpaksa tidak berkata
jujur kepada pasangannya. Maka, syariat tidak menyalahkan
perbuatan tersebut selama tidak
bertujuan untuk menggugurkan
hak istri atau hak suami, dan
tidak pula bertujuan untuk
mengambil sesuatu yang bukan hak suami atau istri. Demikian
dinyatakan Al-Hafizh Ibnu Hajar
Al-’Asqalani t (Fathul Bari,
5/367).

Seperti seorang suami
secara berlebih-lebihan
menggambarkan rasa cintanya kepada si istri, berlebih-lebihan
menyanjung kecantikan istrinya
di hadapan si istri atau seorang
istri secara berlebih-lebihan
mengungkapkan cintanya kepada
si suami, berlebih-lebihan dalam memuji sifat keperwiraan sang
suami, dan semisalnya,
sementara kenyataan yang
sebenarnya tidaklah seperti
yang diungkapkan dan
digambarkan. Dusta yang semacam ini tidaklah termasuk
dusta yang tercela karena
masing-masing bertujuan
menyenangkan hati
pasangannya, ingin menjaga rasa
cinta dan terus memupuknya agar tetap bersemi indah di
dalam jiwa.
Ibnu Hazm menyatakan: “Tidak
apa-apa salah seorang dari
sepasang suami istri berdusta
kepada pasangannya dalam perkara yang akan
mendatangkan rasa cinta di
antara keduanya.” (Al-Muhalla,
9/229)

Rasulullah memberi keringanan
untuk dusta yang semacam ini, sebagaimana beliau memberi
keringanan untuk dusta dalam
rangka memperbaiki hubungan di
antara hamba Allah.
Ummu Kultsum bintu ‘Uqbah bin
Abi Mu‘ith, salah seorang shahabiyyah yang ikut berhijrah
di awal Islam yang berbai’at
kepada Rasulullah,
mengabarkan apa yang pernah
didengarnya dari beliau:

“Bukanlah pendusta3, seseorang
yang melakukan ishlah
(perbaikan) di antara manusia
dan ia mengatakan kebaikan dan
menumbuhkan kebaikan.”4
Ibnu Syihab Az-Zuhri berkata: “Aku tidak pernah mendengar
Nabi memberi rukhshah
(keringanan) untuk satu
kedustaan dari apa yang
diucapkan manusia kecuali dalam
tiga perkara:

(pertama) berdusta dalam peperangan,

(kedua) berdusta dalam rangka
meng-ishlah (memperbaiki
hubungan) di antara manusia,
dan

(ketiga) pembicaraan
seorang suami dengan istrinya dan pembicaraan seorang istri
dengan suaminya.”5

Asma` bintu Yazid berkata:
Rasulullah bersabda:

“Tidak halal berdusta kecuali
pada tiga keadaan; (pertama)
seorang suami berbicara dengan
istrinya untuk membuat istrinya
ridha/ senang, (kedua) dusta
dalam peperangan, dan (ketiga) dusta untuk mengishlah/
memperbaiki di antara
manusia.”6

Ulama berbeda pendapat
tentang apa yang dimaksud
dengan dusta yang dibolehkan dalam hadits di atas.

Sebagian
berpendapat dusta di sini adalah
dusta yang sebenarnya/ secara
hakiki. Sebagian lainnya
berpendapat tidak boleh dusta
sama sekali dalam satu perkara pun. Adapun dusta yang
dimaksudkan dalam hadits adalah
tauriyah yaitu seseorang
berkata kepada lawan bicaranya
dengan ucapan yang tidak sesuai
dengan kenyataan akan tetapi ucapan itu ada sisi benarnya. Ia
maksudkan lain, sementara lawan
bicaranya memahami lain sesuai
dengan dzahir ucapannya.
Misalnya ia berkata kepada
seseorang: “Si Fulan itu memujimu”, sementara yang ia
maksudkan: Si Fulan itu memuji
orang yang sejenismu atau
semisalmu dari kalangan muslimin,
karena setiap orang memuji
kaum muslimin tanpa menyebut individu per individu secara
khusus. Atau ia berkata: “Si
Fulan mendoakan kebaikan
untukmu”, sementara yang ia
maksudkan engkau masuk dalam
doa si Fulan yang ia ucapkan ketika duduk tasyahhud dalam
shalatnya7 karena engkau
termasuk hamba Allah. Contoh
yang lain, seorang suami berjanji
kepada istrinya untuk
memberinya sesuatu, sementara ia inginkan pemberian itu
diberikan bila Allah
menakdirkannya. (Syarhu Muslim,
16/158, Fathul Bari, 5/367,
Syarhu Riyadhish Shalihin, Asy-
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t, 2/30-31)

Al-Imam An-Nawawi berkata:
“Ketahuilah, dusta itu walaupun
pada asalnya diharamkan namun
pada kondisi tertentu dibolehkan
dengan syarat yang telah aku
jelaskan dalam kitab Al-Adzkar.

Ringkasnya: ucapan itu adalah
perantara kepada tujuan/
maksud. Maka setiap tujuan/
maksud yang terpuji yang
mungkin dicapai tanpa berdusta
maka diharamkan untuk berdusta. Namun bila tidak
mungkin dicapai kecuali dengan
berdusta maka boleh berdusta.
Kemudian bila pencapaian maksud
tersebut sifatnya mubah, maka
dusta itu hukumnya mubah. Namun jika perkaranya wajib
maka dusta dalam hal ini menjadi
wajib.

Bila seorang muslim
bersembunyi dari seorang zalim
yang hendak membunuh atau
mengambil hartanya, maka ia pun menyembunyikan hartanya. Jika
kemudian orang zalim tersebut
bertanya kepada muslim
tersebut, maka wajib berdusta
untuk menyembunyikannya.

Demikian pula bila dititipi sesuatu (oleh orang lain), sementara ada
orang zalim yang ingin
mengambilnya, maka wajib
baginya berdusta untuk
menyembunyikannya. Namun
yang lebih hati-hati dari semua ini adalah ia melakukan tauriyah,
ia memaksudkan dengan
ucapannya maksud yang benar.
Maka dari sisi ini ia tidak
berdusta, sekalipun secara
dzahir, lafadz dan apa yang dipahami oleh lawan bicara ia
berdusta. Seandainya pun ia
meninggalkan tauriyah dan ia
memutlakkan ungkapan yang
dusta maka pada keadaan ini
tidaklah diharamkan.” (Riyadhus Shalihin, bab Bayanu ma Yajuzu
minal Kadzib, hal. 459)

Dibolehkannya dusta dalam tiga
perkara yang disebutkan dalam
hadits, karena maslahat/
kebaikan yang ingin dicapai lebih besar. (Bahjatun Nazhirin, 3/70)

Termasuk maslahat besar yang
ingin dicapai adalah langgengnya
kebersamaan dan kebahagiaan
dalam sebuah rumah tangga,
sehingga bila diperlukan tidak apa-apa berbicara yang tidak
sebenarnya kepada pasangan
hidupnya. Namun sekali lagi yang
tidak boleh dilupakan, dusta
tersebut dilakukan dalam rangka
menampakkan rasa cinta dan memberi janji yang tidak
berkaitan dengan kewajiban
atau semisalnya. Adapun kalau
dusta itu mengandung penipuan
untuk mencegah
tersampaikannya hak suami atau hak istri, atau dengan tujuan
mengambil sesuatu yang bukan
hak si suami atau hak si istri,
maka dusta seperti ini haram
dengan kesepakatan ulama.
(Syarhu Muslim, 16/158)

Al-Khaththabi menyatakan:
“Dusta suami kepada istrinya
misalnya dengan menjanjikan
sesuatu kepada si istri dan
menampakkan kepada si istri
rasa cinta yang lebih dari apa yang ada dalam jiwanya, hal ini
dilakukan untuk melanggengkan
kebersamaan dengan
pasangannya dan membaikkan
budi pekertinya.” (Aunul Ma`bud)

Namun, kata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal seperti ini
jangan terlalu sering dilakukan,
karena bila suatu ketika didapati
kenyataan tidak seperti yang
diucapkan, maka terkadang
keadaannya terbalik. Maunya menyenangkan pasangan hidup
namun yang terjadi justru
sebaliknya. Membuat ia marah
dan kehilangan kepercayaan.
(Syarhu Riyadhish Shalihin 2/30).

Wallahu a’lam

1 HR. Al-Bukhari no. 6094, Kitab
Al-Adab, bab Qaulillahi Ta‘ala:
Yaa Ayuhal ladzina Amanu
ittaqullaha wa Kunu Ma’ash
Shadiqin dan Muslim no. 2607,
Kitab Al-Birr wash Shilah, bab Qabhul Kadzib wa Husnush Shidq
wa Fadhluhu.
2 Ceramah ilmiah yang pernah
disampaikan Asy-Syaikh Shalih Al-
Fauzan pada 6 Dzulqa‘dah 1411
H, dan kami mengambilnya dari
http://www.alfauzan.net
3 Yakni dusta yang tercela
(Syarhu Muslim 16/157)
4 HR. Al-Bukhari dalam Shahih-
nya no. 2692, kitab Ash-Shulhu,
bab Laisal Kadzib alladzi Yushlihu
bainan Nasi dan Muslim dalam
Shahih-nya no. 2605, kitab Al-
Birru wash Shilah, bab Tahrimul Kadzib wa Bayanul Mubah minhu.
5 HR. Muslim dalam Shahih-nya
no. 2605, kitab Al-Birru wash
Shilah, bab Tahrimul Kadzib wa
Bayanul Mubah minhu. Dalam
riwayat Al-Imam Ahmad 6/404,
disebutkan bahwa Ummu Kultsum bintu ‘Uqbah x berkata: “Nabi n memberi rukhshah
(keringanan) untuk dusta dalam
tiga perkara: (pertama)
berdusta dalam peperangan,
(kedua) berdusta dalam rangka
mengishlah (memperbaiki hubungan) di antara manusia dan
(ketiga) pembicaraan seorang
suami kepada istrinya.” Dalam
satu riwayat: “Perkataan suami
kepada istrinya dan perkataan
istri kepada suaminya.” Asy-Syaikh Al-Albani t
mengatakan bahwa sanad hadits
ini di atas syarat Al-Bukhari dan
Muslim. Namun keduanya tidak
mengeluarkannya dari sisi ini,
namun dari sisi yang lain yakni dari ucapan Az-Zuhri. (Ash-
Shahihah 2/83)
6 HR. Ahmad 6/459, 461 dan At-
Tirmidzi no. 1939, bab Ma Ja‘a fi
Ishlahi Dzatil Baini. Dihasankan
Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Ash-
Shahihah no. 545.
7 Yaitu ketika ia mengucapkan: “Semoga keselamatan
dilimpahkan kepada kami dan
kepada hamba-hamba Allah yang
shalih.”
Kata Nabi n: “Sungguh bila kalian
mengucapkannya, doa ini
mengenai setiap hamba Allah
yang shalih di langit dan di
bumi.” (HR. Al-Bukhari no. 831,
kitab Al-Adzan, bab At- Tasyahhud fil Akhirah dan Muslim
no. 402, kitab Ash-Shalah, bab
At-Tasyahhud fish Shala

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s